29 Desember 2008

Jadi Presiden RI: Siapa Takut!


Saya tidak tahu bagaimana awal mulanya, tapi sejak akhir tahun 2002, banyak kalangan dengan berbagai alasan meminta saya secara serius mempertimbangkan untuk maju sebagai Calon Presiden Republik Indonesia.

Membayangkan dan meyakinkan diri sebagai Capres, apalagi Presiden RI tidaklah mudah. Bukankah sejak merdeka 63 tahun lalu, Indonesia --dengan penduduk lk. 230 juta jiwa kini-- baru dipimpin oleh enam orang presiden: Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega, Pak SBY.

Butuh rangkaian diskusi dan dialog dengan banyak sahabat seperjuangan, selain perlu berkali-kali istikharah kepada-Nya sebelum saya --dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim-- memutuskan ikut Konvensi Calon Presiden Partai Golkar tahun 2003; menerima ajakan jadi Cawapres Gus Dur tahun 2004; dan tahun 2009 ini kembali sangat antusias ikut Konvensi Calon Presiden RI 2009-2014 yang diselenggarakan oleh Dewan Integritas Bangsa (DIB).

Jujur saya sampaikan bahwa pada awalnya, jika ditanya apakah saya "ingin" jadi Presiden RI, maka jawaban saya adalah: "saya takut!" Jangankan tampil sebagai Presiden RI, menjadi Ketua RT, kepala desa atau lurah saja bagi saya menakutkan. Bahkan mengurus keluarga dan rumah tangga yang terdiri atas hanya beberapa orang saja bukanlah sesuatu yang mudah. Takut dan khawatir kalau-kalau amanah itu tak sepenuhnya dapat saya tunaikan.

Mengapa demikian? Saya bayangkan betapa menyedihkan dan menakutkan jika ada anggota rumah tangga, ada warga desa atau anggota kelurahan yang memberikan amanah kepada saya untuk berperan melayani, mengurus dan setiap kali menciptakan momentum bagi upaya peningkatan kesejahteraan lahir dan bathin mereka, lalu saya tidak mampu melakukannya secara optimal. Misalnya, ada yang tak bisa makan teratur, tak kebagian air bersih, rumahnya tak layak huni, tak bisa sekolahkan anak, nilai pendapatan merosot terus, kesulitan mengurus sejak KTP hingga izin usaha, sakit tapi tidak bisa berobat, tidak mendapatkan pembiasaan beribadah, dan seterusnya. Belum lagi korban jaringan perdagangan narkoba dan perdagangan manusia, pemerkosaan bahkan pembunuhan TKW, kisruh jemaah haji, dan sebagainya. Ooh... betapa beratnya pertanggung-jawaban saya kepada mereka dan kepada Allah SWT.

Suatu waktu hati saya tergetar, ketika menyadari betapa berat memang tanggungjawab seorang pemimpin. Ketika itu saya memvisualisasi tugas pemimpin sebagai (pada dasarnya) menjalankan amanah Tuhan. Ya, pemimpin dalam kapasitas selaku khalifah untuk "mewakili-Nya" melayani sesama manusia dan membantu "mengurus" beragam ciptaan-Nya di bumi. Tugas pemimpin adalah, (bersama seluruh warganya) mengupayakan agar tiap orang dan tiap keluarga bisa mengoptimalkan aktualisasi potensi anugerah dari Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang dalam dirinya, dengan memanfaatkan iptek dan imtaq, untuk mengelola segenap ciptaannya dalam kerangka memenuhi kebutuhan dasar manusia, kelangsungan sejarah dan keluhuran peradaban, kelestarian alam, agar kita pada hari ini dan generasi yang akan datang tak hanya bertaraf hidup dan berkualitas hidup makin layak, tetapi juga makin terhormat dan makin piawai bersyukur pada Tuhan YME.

Saya kemudian teringat (terilhami) bahwa hampir semua pemimpin pilihan (para nabi dan rasul) rata-rata di usia sebelum kerasulan ditempa sebagai penggembala ternak. Tampaknya itulah antara lain proses untuk melatih kepekaan mereka dalam mengurus, melayani, dan melakoni amanah yang diberikan kepada mereka. Saya tiba-tiba menitikkan air mata, ketika membayangkan bagaimana seseorang yang menggembalakan beberapa ratus ekor kambing, domba dan sapi saja harus melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Dia tak boleh membiarkan gembalaannya kelaparan, kehujanan dan tak dapat tempat berteduh. Dia tak boleh membiarkan sebagian gembalaannya mendapatkan terlalu banyak makanan, sementara yang lain kelaparan, atau membiarkan gembalaan saling tanduk. Dan tentu, dia tak boleh pilih kasih dalam segala bentuknya. Merinding saya membayangkan tugas memimpin dan mengurus jutaan manusia, dengan variasi dan tingkat kebutuhan yang demikian jamak. Belum kerumitan dalam hal hubungan-hubungan internasional, tak terkecuali dalam kerangka B-to-B maupun G-to-G itu sendiri.

Kak Ibrahim Taju, suami sekaligus mentor dan editor saya, seperti biasa ternyata membaca kegundahan saya. Beliau berkata begini: "Memimpin satu manusia atau memimpin semua manusia di mata Tuhan sama beratnya dan sama mulianya. Yang penting sebenarnya adalah motivasi dan bagaimana kita melakukannya: niat kita, ketulusan kita, kasih sayang kita, cinta kita, apakah untuk pamrih atau dedikasi semata karena dan untuk Allah. Menolong seseorang sama dengan menolong semua." Jadi hakekatnya, mengambil tanggungjawab memimpin atau mengurus satu orang harusnya sama nilai amanahnya dengan memimpin 230 juta atau bahkan 6,5 milyar manusia." Perhatikan firman-Nya: "...barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya......(QS 5:32).

Yang patut kita takutkan adalah kalau kita diciptakan dengan "tugas" mengurus satu orang atau satu desa, lalu kita ingin memimpin satu provinsi atau satu negara. Sama besar kesalahannya jika kita diciptakan dengan kapasitas dan "garis takdir" untuk memimpin satu negara, tapi memilih dan memutuskan hanya mau mengurus satu desa, satu keluarga, atau hanya mau mengurus diri sendiri.

Jadi sesungguhnya, kita tidak boleh takut menjadi Presiden atau menjadi apa saja, dan tidak boleh takut tidak menjadi Presiden. Kita hanya boleh takut ketika kita kembali kepangkuan Ilahi dan kita lalai menjalankan tugas takdir kita (seperti takutnya siswa ke sekolah karena tak mengerjakan PR).

Ketakutan memimpin umat ternyata sifatnya sangat manusiawi. Bahkan Nabi Musa dan saudaranya Nabi Harun merasa khawatir, padahal mereka sudah diyakinkan sebagai pilihan Tuhan. "Dan aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," ( QS 20:13). "Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku," (QS 20:41). "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat," (QS 20:46).

Yang perlu kita upayakan adalah agar Allah bersama kita sebelum, selama, dan setelah kita memimpin negara besar kita, Indonesia; bahkan juga "negeri kecil" kita, yakni keluarga kita masing-masing. Amin.
Salam Nusantara Jaya 2045.

www.marwahdaud.com dan marwahdi@yahoo.com

20 Desember 2008

"PKS AWARD 2008: 8 INSPIRING WOMEN"


Beberapa hari lalu saya menerima SMS yang intinya meminta foto dan video kegiatan saya untuk jadi bahan pembuatan profil acara Malam Anugerah PKS Award 2008 untuk 8 Inspiring Women. Karena saya di luar kota, maka saya jawab singkat: "Silakan buka www.marwahdaud.com lalu click flickr untuk ambil foto dan youtube untuk download video kegiatan saya."

Sesuai dengan undangan tanggal 19 Desember 2008 malam, saya datang menghadiri acara di Istana Ballroom Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Di malam penganugerahan itu, Ketua Kewanitaan PKS, Ledia Hanifa Amaliah, menyampaikan bahwa: PKS memberikan anugerah kepada 8 inspiring women terpilih dari 800 nominator yang diajukan oleh masyarakat, termasuk dari pimpinan pusat berbagai ormas perempuan.

Penghargaan ini dianugerahkan kepada yang dinilai memberikan inspirasi dalam rangka peringatan 80 tahun kebangkitan perempuan Indonesia, hari Kongres Perempuan 22 Desember 2008. Sering juga disebut dengan Hari Ibu. Beliau juga menyampaikan bahwa "PKS meyakini inpirasi ini bukanlah kompetisi, tapi gerakan bersama untuk memberikan harapan sebesar-besarnya kepada semua orang."

Sementara Presiden PKS, Tifatul Sembiring, yang menyerahkan penghargaan kepada para inspiring woman tersebut menyatakan keprihatinannya akan indeks perempuan Indonesia yang masih rendah. Bahkan dari segi pendidikan, kini masih kurang dari 5 persen kaum perempuan di Indonesia yang sampai pada jenjang perguruan tinggi. "Mereka tidak leluasa memiliki akses seperti halnya laki-laki. Padahal ibu atau perempuan adalah inspirasi bagi bangsa ini," jelasnya saat memberikan sambutan.

Dalam buku panduan acara dan presentasi video, disampaikan bahwa delapan orang yang terpilih menerima PKS Award 2008: 8 Inspiring Women adalah mereka yang dianggap memiliki pengaruh signifikan, dan aktif dalam bidang masing-masing. Mereka adalah:1) Neno Warisman (seniman dan pendakwah) yang juga dikenal sebagai perancang busana muslim; 2) Nani Zulminarni (aktivis LSM), yang menggiatkan pembentukan koperasi bagi janda-janda serta sebagai ketua Pemberdayaan Kepala Keluarga Perempuan (Pekka); 3) Prof. Edi Sedyawati (budayawan) yang aktif berkesenian tradisional melalui Ikatan Seni Tari Indonesia; 4) Bunda Iffet Veceha Sidharta (manajer grup musik Slank), yang mampu membawa personil Slank keluar dari ketergantungan narkotika dan obat-obatan; 5) Dr. Eniya Listiani Dewi (ilmuwan) yang membuat terobosan pengembangan sinar matahari menjadi arus listrik; 6) Maria M. Hartiningsih (wartawati), yang kerap menulis artikel seputar perempuan; 7) Sri Wulandari (pendidik), yang menggagas Forum Putra Daerah Peduli Pendidikan; 8) Marwah Daud Ibrahim (politisi) yang dianggap sukses memperjuangkan sekolah berbasis unggulan lokal di kabupaten/kota dan menginspirasi perempuan terjun, berjuang dan berkontribusi di ranah politik a.l. dengan melalui affirmative action 30% di parlemen.

Sebenarnya, beberapa waktu lalu saya sempat membaca pengumuman di sebuah majalah perempuan, yang mengundang masyarakat mengusulkan nama-nama calon 8 inspiring women melalui SMS dengan format: PKS (spasi) nama pengusul (spasi) usia pengusul (spasi) kota pengusul (spasi) nama yang diajukan (spasi) alasan.

Hari-hari terakhir sebelum acara penganugerahan, saya juga mengikuti berita di koran dan di situs internet yang santer membicarakan PKS Award beserta beberapa nama nominator: a.l.: Siti Hardianti Rukmana (Mbak Tutut), Ibu Megawati Soekarnoputri (Ketum PDIP), Ibu Ani Yudhoyono (pelopor mobil pintar), Ibu Mufidah Kalla (aktif di kegiatan sosial), Ibu Siti Fadilah Supari (Menkes).

Saya tidak pernah membaca dan bahkan juga tidak membayangkan diri saya termasuk nominator untuk mendapatkan anugerah sebagai perempuan yang memberikan inspirasi. Apalagi belakangan ini saya jarang sekali muncul di media.

Namun saya menemukan berbagai hikmah di balik penghargaan ini. Antara lain: kita harus yakin bahwa realisasi kepedulian sosial yang kita lakukan tidaklah sia-sia. Masyarakat tidak buta dan tuli; mereka melihat, mendengar, serta mencermati apa yang kita lakukan. Mungkin salah satu penyebab saya masuk nominator adalah karena beberapa tahun terakhir ini saya rajin berkeliling di tengah masyarakat melakukan pelatihan MHMMD dan program pengembangan unggulan lokal, serta kegiatan terkait dengan tugas sebagai Presidium ICMI dan ketua Pokja Forum Kawasan Timur Indonesia.

Selain itu saya sering mengisi acara seminar, dialog dan pelatihan perempuan, khususnya dalam bidang politik. Selain di forum PKS, saya juga pernah mengisi acara di PBB, di PPP bahkan pelatihan caleg lintas partai yang diadakan The Asia Foundation bersama Ibu Ani Sucipto (Universitas Indonesia) dan Norwegian Embassy, diikuti calon legislator perempuan dari PDIP, Golkar, Demokrat, PDS, PKB, PKS, PAN, Partai Buruh, dll.

Hal lain yang tak kalah penting adalah campur tangan-Nya. Dari hasil renungan saya, saya yakini ini bukan sebuah kebetulan, tapi sebuah miracle. Majalah Ummi sudah lama minta berwawancara; terakhir saya ketemu wartawannya di kediaman Dubes Inggeris dan ketika itu disepakati waktu wawancara. Ternyata wawancara berupa profil kegiatan saya dalam keluarga dan di masyarakat dimuat lengkap dalam majalah yang juga memuat pengumuman meminta masyarakat memajukan nominator 8 inspiring women itu.

Maka, saat diminta menyampaikan pesan dan kesan pada forum pemberian penghargaan itu, saya tentu tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, serta terima kasih kepada masyarakat disertai pesan yang isinya lk. sbb: Pertama, mengapresiasi PKS yang telah mengembangkan kebiasaan positif dengan memberikan penghargaan kepada pahlawan, kepada tokoh pemuda dan malam ini kepada kaum perempuan.

Kedua, menyampaikan bahwa saya sering ditanya kok belakangan ini jarang muncul. Saya jawab: "Dulu sebelum reformasi semua orang diam, jadi saya lantang berbicara. Sekarang ketika orang semua bicara, maka saya sibuk keluar masuk desa bekerja bersama rakyat."

Ketiga, menyampaikan pesan khusus kepada kaum perempuan Indonesia untuk tidak segan berkiprah di dunia politik: "Yakinilah bahwa berkiprah dan berperan di bidang politik sama mulianya dengan berkiprah di bidang lain. Yang penting kita luruskan niat untuk mengabdi kepada-Nya dan tulus berjuang untuk kesejahteraan masyarakat."

Apapun, yang paling menarik menurut saya dari semua ini adalah bahwa masyarakat ternyata TIDAK LAGI melihat JABATAN atau KEDUDUKAN FORMAL kita atau SUAMI atau ORANGTUA KITA dalam menentukan pilihan. Pilihan pada 8 inspiring women ini membuktikan bahwa masyarakat kini lebih mencermati KONSISTENSI, DETERMINASI dan KEBERANIAN kita memperjuangkan apa yang kita yakini benar dan bisa memberi manfaat positif sebesar-besarnya for all.

Semoga Tuhan YME --sumber dari seluruh sumber inspirasi-- selalu mengilhami kita untuk menggali inspirasi dari ajaran mulia yang telah diwahyukan kepada manusia melalui Nabi-nabi dan Rasul-rasul pilihan-Nya. Semoga kita semua jadi inspirator, khususnya bagi generasi masa depan bangsa. Amiin!
Salam NUSANTARA JAYA 2045.

marwahdi@yahoo.com dan www.marwahdaud.com

15 Desember 2008

KELUAR DARI JERATAN KAPITALISME


Dalam penerbangan Jakarta ke Makassar tanggal 5 Desember lalu, saya menjumpai artikel menarik di suratkabar Seputar Indonesia tentang German Sterligov, mantan multimiliuner Rusia yang kini masuk desa menjadi peternak domba. Saya kemudian mencari tambahan informasi dari mesin google tentang sosok menarik ini.

Ketika krisis keuangan melanda dunia, termasuk Rusia, banyak pengusaha yang kelimpungan. Sterligov rupanya tak kehilangan sesenpun akibat krisis finansial global tersebut. Kenapa? Ya, karena sejak beberapa tahun yang lalu ia telah meninggalkan kehidupan glamour sebagai pengusaha kaya untuk menjadi peternak dan petani di pedesaan terpencil di Rusia.

Perjalanan bisnis Sterligov memang cukup menarik; bahkan saat masih berusia 24 tahun, ia telah tampil sebagai multimilyuner kedua Rusia. Ketika Rusia baru saja membuka diri, Sterligov mendirikan perusahaan atas namanya sendiri. Ia berkiprah di sektor jasa keuangan. Di puncak kesuksesannya ia menjadi "taipan" dengan ratusan juta dolar dan puluhan bisnis. Ia tak cuma berkantor di Moscow, tapi juga di Wall Street New York, dan Curzon Street di Pusat London. Ia pun memiliki villa megah di Rublyovka, kawasan mewah di pinggiran kota moscow dengan pekerja mencapai 2500 orang.

Keinginannya untuk melakukan perubahan sosial mendorong ia mencalonkan diri sebagai Walikota Moskow, Gubernur Siberia, bahkan Calon Presiden Russia melawan Presiden Vladimir Putin pada pemilihan ulang 2004. Ia kalah dan menyisakan banyak utang. Ia kemudian memutuskan menjual semua asset, stock, property untuk membayar utangnya. Sisa uang sebanyak US 100.000 dollar dipakai membangun tiga rumah kayu sederhana dan membeli beberapa ekor domba.

Apa komentarnya tentang hidup barunya? Seperti yang disampaikan kepada wartawan AP dan BBC, "My life has never been better," hidup saya tak pernah lebih baik dari saat ini. Istrinya, Alyona Sterligova, awalnya agak sulit menyesuaikan diri. Tapi bersama lima orang anak mereka, kini mereka merasa hidup bahagia.

"Saya tak akan kembali ke jalan kapitalis tradisional. Kolega lama saya menghargai keserderhanaan dan kemandirian hidup yang kami jalankan, punya 100 domba, seekor kuda, seekor sapi, beberapa ekor kambing dan unggas." Tinggal di sebuah rumah kayu dengan perabotan lokal, serta peralatan kerja dua traktor, satu bulldozer, Toyota tua dan kereta kuda untuk kendaraan musim dingin, buat keluarga Sterligov sudah lebih dari cukup. Memang sejak, di puncak kejayaannya sebagai milyarder tempo hari ia menjauhi gaya hidup foya-foya. Ini mungkin pengaruh dari kehidupan spiritual yang didalaminya sejak lk. 10 tahun lalu.

Untuk keluar dari krisis keuangan global, Sterligov mengusulkan pola transaksi komoditas dengan cara barter barang secara elektronik, tidak berhubungan dengan dollar, Euro atau Rubel. Skema ini dinilai Sterligov bisa menyelamatkan keuangan Rusia yang sedang tenggelam.

"Kolega saya cemburu. Mereka hidup dalam penjara rutinitas. Tahun 1990-an saya mengalami hal yang sama, ketika tidak ada tujuan lain dalam hidup saya selain menjadi kaya. Dan saya berhasil. Sekarang kalau saya diancam begini: ambil alih 5 pabrik atau kamu ditembak, saya akan jawab: tembak saja saya. Saya tidak menginginkan itu lagi."

Pertanian akan menjadi lahan baru bagi orang kaya Rusia; banyak dari mereka sedang melirik tanah dan sapi. Logam tak lagi menjadi favorit. Domba, sapi, gandum, minyak zaitun, dan madu menjadi emas. "Ya. Ke depan nilai produk pertanian seperti emas." Katanya meyakinkan.

Bagaimana di Indonesia? Saatnya kita merenungkan makna terdalam sukses dan bahagia, yang ternyata tidak identik dengan tumpukan uang. Saatnya kita memberi perhatian pada kegiatan pedesaan: Pertanian, peternakan, perikanan, dll. Kalau Sterligov, multimilyarder dari Rusia tertarik kembali ke desa, masa di Indonesia kita ramai-ramai telantarkan desa.

Ayo saatnya bangkit dari Desa. Salam Perhimpunan Masyarakat Desa Nusantara (PMDN).
Salam NUSANTARA JAYA 2045.

marwahdaud@yahoo.com dan www.marwahdaud.com

Foto:BBC News

13 Desember 2008

“IDUL KURBAN dan BUNDA SITI HAJAR”


Pada hari Raya Idul Adha atau dikenal juga dengan Idul Kurban umat Islam di seantero dunia akan kembali mengenang kisah Nabi Ibrahim AS saat menerima perintah dari Allah SWT untuk menyembelih dan mengurbankan anak kandungnya Ismail demi kecintaannya dan keikhlasannya kepada Allah SWT. Pelaksanaan amalan keluarga Nabi brahim AS juga merupakan rangkaian penting dari ibadah haji.

Kita pun kembali akan diingatkan betapa berat bagi Nabi Ibrahim AS. menyampaikan pesan kepada anak kandung yang disayanginya: "Wahai anakku, saya melihat dalam tidur, bahwa saya diperintahkan menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu." Kita pun akan dengan penuh haru mendengar jawaban penuh keikhlasan dari Ismail AS: "Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku termasuk orang yang sabar."

Betapa mesra panggilan ayah dan anak di saat suasana demikiam mencekam dan mendebarkan dan harusnya penuh haru itu. Betapa ikhlas mereka untuk memenuhi perintah Tuhan.

Izinkan saya dalam perspektif keadilan jender, mengajak kita melakukan flashback lebih jauh lagi ke belakang, untuk mengingat bahwa sesungguhnya ada seorang tokoh IBU, yang sangat berperan dalam proses pendidikan usia dini yang sudah disiapkan Allah SWT kepada Nabi Ismail, yaitu Bunda Siti Hajar. Sesuatu yang sangat perlu -- tapi jarang kita angkat -- agar dengannya bisa menjadi pembelajaran bagi kita dalam mendidik anak dan generasi masa depan.

Sering betul disampaikan bahwa "semua Nabi adalah pria" tapi kita sering lupa, atau sengaja melupakan bahwa sesungguhnya di banyak kisah para Nabi tersimpan atau tersembunyi cerita keteladanan atas peran kaum perempuan yang mengandung pembelajaran dan hikmah untuk kita renungkan dan teladani. Sayang sekali sering kita luput untuk menyampaikannya.

Saya teringat, ketika dalam suatu acara berbagi di pelatihan MHMMD di kantor Simpul ICMI Center, hampir semua peserta menitikkan air mata ketika seorang peserta menceritakan penggalan kisah ketabahan dan keikhlasan Siti Hajar yang masih menyusui bayi Ismail, ketika akan dan setelah ditinggal oleh suami yang dicintainya, Nabi Ibrahim AS.

Begini kurang lebih inti kisahnya: "Mari kita membayangkan kejadian mengharukan yang terjadi ribuan tahun lalu, ketika seorang Ibu bernama SITI HAJAR, yang tidak lagi muda, bersama suami bernama IBRAHIM dan anak bayinya bernama ISMAIL tiba di tempat yang kini bernama Mekah di tengah terik matahari di padang pasir tandus tanpa persediaan makanan dan minuman memadai. Dalam keadaan galau tiba-tiba sang suami pamit dan berjalan pergi untuk meninggalkan sang istri dan anak bayi mereka."

Siti Hajar pun heran dan memperhatikan sikap suaminya dan bertanya; "Hendak kemanakah engkau suamiku? "Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua ditempat yang sunyi dan tandus ini?"

Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun. Ia tetap melangkah meninggalkan istri dan anaknya. Siti Hajar pun bertanya lagi; "hendak kemanakah engkau Ibrahim? Sampai hatikah engkau meninggalkan aku dan anak bayimu di tengah padang tandus ini?" Lagi-lagi tidak dijawab oleh Nabi Ibrahim.

Siti Hajar kemudian bertanya sambil menangis: "Apakah ini perintah dari Allah?" Barulah Nabi Ibrahim menjawab; "ya." Dan Siti Hajar pun diam, tak bertanya lagi, dan dengan rela melepas suami meninggalkan dirinya dan anak bayinya tanpa siapa-siapa menemani kecuali keyakinan atas Ke-Maha-Kuasaan Allah.

Setelah ditinggal pergi, ia berikhtiar mencari air untuk anak bayi yang kehausan dengan lari dari Safa ke Marwah. Kemudian Allah memunculkan keajaiban dengan pancaran air Zam-zam di dekat Sang Bayi. Pelajaran keihklasan dari seorang Ibu dan keyakinan dan sikap tawakkal akan ke-Maha-Kuasaan Allah menjadi pelajaran untuk mendidik generasi kemudian.

Didikan penuh keikhlasan dan kepasrahan dari Ibundanya ini memberi pengaruh positif atas keikhlasan Nabi Ismail menerima perintah Allah melalui ayah kandungnya sendiri untuk menyembelihnya. Bisa kita bayangkan kalau Siti Hajar tetap merengek dan minta ditemani oleh Nabi Ibrahim AS. Atau kalau beliau dengan penuh kejengkelan dan rasa frustrasi mendidik dan membesarkan anaknya Ismail dengan marah-marah dan membentak atau mencaci ketika ditinggal pergi oleh suami tercinta.

Saya bahagia ketika saya berniat menulis jurnal tentang peran SITI HAJAR dalam Mendidik Generasi Baru, saya menemukan satu pesan pendek dari Ibu Fifi, penemu JIBBS yang selain mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha sambil meminta kita mengambil hikmah dari ketaqwaan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail AS, seperti pesan lainnya, beliau juga panjang lebar menyampaikan pesan tentang perlunya meneladani perjalanan hidup Siti Hajar a.l:

1) Kepatuhannya pada suami yang diyakini menjalankan perintah Ilahi: "sami'na wa atho'na, saya dengar dan saya patuhi." 2) Ketegaran menerima tanggung jawab dalam kondisi yang sangat berat, walau sendirian dan tak punya apa-apa. 3) Berharap dan bertawakkal hanya kepada Allah karena meyakini bahwa suami berangkat karena perintah Allah. 4) Yakin Allah akan menjaga dan memberi mereka rezeki. 5) Berusaha dan berikhtiar terus sehingga dari tempat yang tandus memancar air Zam-zam, dari tiada menjadi ada,dan berlimpah. 6) Setelah ribuan tahun meninggal, amalannya (berupa Sai dari Safa ke Marwah) tetap diikuti oleh jutaan orang, dan peningalannya berupa sumur Zam-zam bermanfaat untuk jutaan orang dari berbagai belahan dunia.

Semoga kita bisa bisa mendidik generasi masa depan dengan mengambil pelajaran dari ketaqwaan nabi Ibrahim AS, kesabaran Nabi Ismail AS dan ketabahan dan keikhlasan dan sikap tawakkal Bunda Siti Hajar.
Salam Nusantara Jaya 2045.

www.marwahdaud.com dan marwahdi@yahoo.com

11 Desember 2008

“Kami Telah Memberimu Nikmat yang Banyak”


Ketika kecil di Dusun Pacongkang, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, saya belajar memasak dari Ibunda Siti Rahman Indang dan Ayahanda Muh. Daud. Beliau berdua senang mengajak kami, anak-anak beliau dan seluruh anggota keluarga masak bersama. Salah satu masakan favorit keluarga kami adalah "barobbo" yang terbuat dari jagung muda diserut kemudian dibuat sup dengan campuran udang atau ayam dan beragam sayuran.
Ayahlah yang mengajari saya menanak nasi dengan memakai ruas jari tangan sebagai alat ukur, agar air tidak kurang atau lebih, sehingga nasi tidak mentah atau lembek. Ibu mengajari saya membersihkan dan mencari bagian persendian itik atau ayam agar mudah dipotong-potong. Ibu juga yang mengajari saya membersihkan ikan, dan berhati-hati mengeluarkan isi perutnya agar empedunya tidak pecah sehingga tidak pahit.
Tapi ada nilai penting yang sangat berkesan yang saya dapatkan dari beliau berdua yaitu pesan agar kami anak-anaknya selalu membacakan "Surah Al-Kautsar" di bilasan terakhir ketika mencuci makanan sebelum dimasak: "(1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (2) Maka dirikanlah sholat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah. (3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus."
Makna ayat tersebut dan momen pembacaannya demikian membekas. Mungkin itu sebabnya sehingga saya sangat mudah terkagum-kagum akan betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia melalui ciptaan-Nya yang aneka ragam untuk dikonsumsi: ayam, itik, kambing, sapi, kepiting, udang, rupa-rupa ikan, sayuran dan buah-buahan, biji-bijian, belum lagi garam dan rupa-rupa bumbu dll. Semua dengan rasa, warna, dan bentuk yang berbeda. Subhanallah, Maha suci Allah dengan segala ciptaan-Nya.
Entah mengapa sejak kecil saya sangat mudah tergetar, dan bisa larut begitu lama ketika mengamati satu-persatu nikmat yang diberikan Allah kepada kita melalui makanan yang kita makan setiap hari. Misalnya, saya pandangi telur itik lalu kemudian untuk waktu yang lama takjub membayangkan kehebatan Allah, Penciptanya, betapa sempurna proses terjadinya telur di perut induknya, proses keluarnya, kemudian kagum pada bentuknya, kulit keras dan kulit arinya, putih dan kuningnya. Begitu sempurna!!! Belum lagi nikmat dari rasanya ketika digoreng jadi telur dadar atau telur mata sapi; ketika direbus atau sesudah diasinkan; atau dijadikan bahan untuk membuat rupa-rupa kue. Betapa nikmatnya!!! Alhamdulillah.
Lebih takjub lagi saya ketika membayangkan telur itik yang isinya berwarna putih dan kuning, setelah dierami bisa menjadi anak itik yang begitu sempurna: ada mata, paruh, kaki, tulang, kulit, daging, bulu, pencernaan. Subhanallah. Proses perenungan tersebut sangat intensif karena di usia SD saya memelihara itik yang telurnya bisa saya ambil dan olah semau saya. Dari merenungkan proses penciptaan itik inilah kemudian disusul dengan kekaguman pada buah-buahan dan sayuran serta makanan lainnya.
Hari-hari sekitar Idul Adha saat ini, tiba-tiba saya teringat betapa meresapnya makna surah Al-Kautsar ketika selain dibaca juga dikaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari, misalnya dengan betapa banyak nikmat yang Allah SWT berikan lewat makanan yang kita konsumsi setiap hari.
Kebiasaan membaca ayat: "Sungguh Kami telah memberikan kepadamu Nikmat yang banyak" sambil mencuci dan memegang rupa-rupa jenis makanan membuat saya sadar betapa beragam nikmat Allah itu telah membuat saya dan teman semanusia saya bisa hidup dan melanjutkan kehidupan.
Lanjutan ayat yang berbunyi "Maka dirikanlah sholat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah," menjadi begitu alamiah. Terasa betul "malu" dan "tak tahu dirinya" saya sebagai manusia setelah mendapat begitu banyak nikmat lalu tidak sholat dan tidak siap berkurban sebagai wujud rasa patuh dan syukur saya karena telah diberikan begitu banyak nikmat oleh Allah, Yang Maha Pencipta.
Bacaan dan ikrar: "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam" terasa menjadi semakin mengena di hati karena meyakini bahwa semua kebutuhan dan keperluan saya yang rupa-rupa jenisnya diberikan oleh-Nya.
Sesungguhnya, dorongan untuk berkurban bisa menjadi bermakna luas. Tidaklah hanya menunggu waktu Idul Adha, dan bukan juga hanya dalam bentuk penyembelihan hewan kurban. Tapi setiap tarikan nafas kita, setiap detik-detik dalam hidup kita harusnya ikhlas untuk kita kurbankan semata untuk-Nya. Bahkan semua milik kita (yang hakekatnya adalah pinjaman dari-Nya) harus ikhlas kita berikan dengan keikhlasan yang semoga mendekati kualitas ikhlas Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS serta Bunda Siti Hajar yang ikhlas melepas dan mengorbankan yang paling dicintai sebagai wujud kepatuhan menjalankan perintah-Nya.
Ada hal penting lainnya yang sudah lama menjadi perhatian saya. Yaitu, bagaimana agar seluruh rakyat Indonesia bahkan seluruh manusia di bumi bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka (terutama kebutuhan makanan). Dengan demikian semua bisa menikmati ciptaan Allah berupa makanan yang rupa-rupa bentuk, warna dan rasanya dan dengannya bisa beryukur dengan cara tekun menyembah dan ikhlas berkurban di jalan-Nya.
Sesungguhnya segenap harta, jiwa dan apapun yang kita "miliki" harus siap kita kurbankan. Caranya, senantiasa berupaya tulus ikhlas memberikan yang terbaik untuk Allah, melalui tangan-tangan makhluk yang dicintainya (mereka yang miskin dan terpinggirkan) selain berupa hewan sembelihan juga berupa pemberian pikiran, waktu, tenaga, sarana dan dana yang kita miliki untuk mencari berperan dalam mensejahterakan mereka.
Semoga momentum Hari Raya Idul Adha tahun ini membuat kita semakin syukur nikmat, tekun sholat dan ikhlas berkurban. Dan semoga orang-orang yang membenci kita (karena iri, dengki atau belum paham pada apa yang kita lakukan) akan terputus. Dan semoga kita akan dipertemukan dan diperjalankan dan dipersatukan dengan orang-orang yang menyayangi, mencintai kita semata karena dan untuk Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Selamat Hari Raya Idul Kurban. Semoga kita semua rakyat Indonesia diberkahi-Nya. Amiin.
Salam Nusantara Jaya 2045.
www.marwahdaud.com & marwahdi@yahoo.com
Sumber Foto: Harun Yahya Internasional 2004. info@harunyahya.com Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini.