15 Desember 2008

KELUAR DARI JERATAN KAPITALISME


Dalam penerbangan Jakarta ke Makassar tanggal 5 Desember lalu, saya menjumpai artikel menarik di suratkabar Seputar Indonesia tentang German Sterligov, mantan multimiliuner Rusia yang kini masuk desa menjadi peternak domba. Saya kemudian mencari tambahan informasi dari mesin google tentang sosok menarik ini.

Ketika krisis keuangan melanda dunia, termasuk Rusia, banyak pengusaha yang kelimpungan. Sterligov rupanya tak kehilangan sesenpun akibat krisis finansial global tersebut. Kenapa? Ya, karena sejak beberapa tahun yang lalu ia telah meninggalkan kehidupan glamour sebagai pengusaha kaya untuk menjadi peternak dan petani di pedesaan terpencil di Rusia.

Perjalanan bisnis Sterligov memang cukup menarik; bahkan saat masih berusia 24 tahun, ia telah tampil sebagai multimilyuner kedua Rusia. Ketika Rusia baru saja membuka diri, Sterligov mendirikan perusahaan atas namanya sendiri. Ia berkiprah di sektor jasa keuangan. Di puncak kesuksesannya ia menjadi "taipan" dengan ratusan juta dolar dan puluhan bisnis. Ia tak cuma berkantor di Moscow, tapi juga di Wall Street New York, dan Curzon Street di Pusat London. Ia pun memiliki villa megah di Rublyovka, kawasan mewah di pinggiran kota moscow dengan pekerja mencapai 2500 orang.

Keinginannya untuk melakukan perubahan sosial mendorong ia mencalonkan diri sebagai Walikota Moskow, Gubernur Siberia, bahkan Calon Presiden Russia melawan Presiden Vladimir Putin pada pemilihan ulang 2004. Ia kalah dan menyisakan banyak utang. Ia kemudian memutuskan menjual semua asset, stock, property untuk membayar utangnya. Sisa uang sebanyak US 100.000 dollar dipakai membangun tiga rumah kayu sederhana dan membeli beberapa ekor domba.

Apa komentarnya tentang hidup barunya? Seperti yang disampaikan kepada wartawan AP dan BBC, "My life has never been better," hidup saya tak pernah lebih baik dari saat ini. Istrinya, Alyona Sterligova, awalnya agak sulit menyesuaikan diri. Tapi bersama lima orang anak mereka, kini mereka merasa hidup bahagia.

"Saya tak akan kembali ke jalan kapitalis tradisional. Kolega lama saya menghargai keserderhanaan dan kemandirian hidup yang kami jalankan, punya 100 domba, seekor kuda, seekor sapi, beberapa ekor kambing dan unggas." Tinggal di sebuah rumah kayu dengan perabotan lokal, serta peralatan kerja dua traktor, satu bulldozer, Toyota tua dan kereta kuda untuk kendaraan musim dingin, buat keluarga Sterligov sudah lebih dari cukup. Memang sejak, di puncak kejayaannya sebagai milyarder tempo hari ia menjauhi gaya hidup foya-foya. Ini mungkin pengaruh dari kehidupan spiritual yang didalaminya sejak lk. 10 tahun lalu.

Untuk keluar dari krisis keuangan global, Sterligov mengusulkan pola transaksi komoditas dengan cara barter barang secara elektronik, tidak berhubungan dengan dollar, Euro atau Rubel. Skema ini dinilai Sterligov bisa menyelamatkan keuangan Rusia yang sedang tenggelam.

"Kolega saya cemburu. Mereka hidup dalam penjara rutinitas. Tahun 1990-an saya mengalami hal yang sama, ketika tidak ada tujuan lain dalam hidup saya selain menjadi kaya. Dan saya berhasil. Sekarang kalau saya diancam begini: ambil alih 5 pabrik atau kamu ditembak, saya akan jawab: tembak saja saya. Saya tidak menginginkan itu lagi."

Pertanian akan menjadi lahan baru bagi orang kaya Rusia; banyak dari mereka sedang melirik tanah dan sapi. Logam tak lagi menjadi favorit. Domba, sapi, gandum, minyak zaitun, dan madu menjadi emas. "Ya. Ke depan nilai produk pertanian seperti emas." Katanya meyakinkan.

Bagaimana di Indonesia? Saatnya kita merenungkan makna terdalam sukses dan bahagia, yang ternyata tidak identik dengan tumpukan uang. Saatnya kita memberi perhatian pada kegiatan pedesaan: Pertanian, peternakan, perikanan, dll. Kalau Sterligov, multimilyarder dari Rusia tertarik kembali ke desa, masa di Indonesia kita ramai-ramai telantarkan desa.

Ayo saatnya bangkit dari Desa. Salam Perhimpunan Masyarakat Desa Nusantara (PMDN).
Salam NUSANTARA JAYA 2045.

marwahdaud@yahoo.com dan www.marwahdaud.com

Foto:BBC News

Tidak ada komentar:

Posting Komentar