Ketika kecil di Dusun Pacongkang, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, saya belajar memasak dari Ibunda Siti Rahman Indang dan Ayahanda Muh. Daud. Beliau berdua senang mengajak kami, anak-anak beliau dan seluruh anggota keluarga masak bersama. Salah satu masakan favorit keluarga kami adalah "barobbo" yang terbuat dari jagung muda diserut kemudian dibuat sup dengan campuran udang atau ayam dan beragam sayuran.
Ayahlah yang mengajari saya menanak nasi dengan memakai ruas jari tangan sebagai alat ukur, agar air tidak kurang atau lebih, sehingga nasi tidak mentah atau lembek. Ibu mengajari saya membersihkan dan mencari bagian persendian itik atau ayam agar mudah dipotong-potong. Ibu juga yang mengajari saya membersihkan ikan, dan berhati-hati mengeluarkan isi perutnya agar empedunya tidak pecah sehingga tidak pahit.
Tapi ada nilai penting yang sangat berkesan yang saya dapatkan dari beliau berdua yaitu pesan agar kami anak-anaknya selalu membacakan "Surah Al-Kautsar" di bilasan terakhir ketika mencuci makanan sebelum dimasak: "(1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (2) Maka dirikanlah sholat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah. (3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus."
Makna ayat tersebut dan momen pembacaannya demikian membekas. Mungkin itu sebabnya sehingga saya sangat mudah terkagum-kagum akan betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia melalui ciptaan-Nya yang aneka ragam untuk dikonsumsi: ayam, itik, kambing, sapi, kepiting, udang, rupa-rupa ikan, sayuran dan buah-buahan, biji-bijian, belum lagi garam dan rupa-rupa bumbu dll. Semua dengan rasa, warna, dan bentuk yang berbeda. Subhanallah, Maha suci Allah dengan segala ciptaan-Nya.
Entah mengapa sejak kecil saya sangat mudah tergetar, dan bisa larut begitu lama ketika mengamati satu-persatu nikmat yang diberikan Allah kepada kita melalui makanan yang kita makan setiap hari. Misalnya, saya pandangi telur itik lalu kemudian untuk waktu yang lama takjub membayangkan kehebatan Allah, Penciptanya, betapa sempurna proses terjadinya telur di perut induknya, proses keluarnya, kemudian kagum pada bentuknya, kulit keras dan kulit arinya, putih dan kuningnya. Begitu sempurna!!! Belum lagi nikmat dari rasanya ketika digoreng jadi telur dadar atau telur mata sapi; ketika direbus atau sesudah diasinkan; atau dijadikan bahan untuk membuat rupa-rupa kue. Betapa nikmatnya!!! Alhamdulillah.
Lebih takjub lagi saya ketika membayangkan telur itik yang isinya berwarna putih dan kuning, setelah dierami bisa menjadi anak itik yang begitu sempurna: ada mata, paruh, kaki, tulang, kulit, daging, bulu, pencernaan. Subhanallah. Proses perenungan tersebut sangat intensif karena di usia SD saya memelihara itik yang telurnya bisa saya ambil dan olah semau saya. Dari merenungkan proses penciptaan itik inilah kemudian disusul dengan kekaguman pada buah-buahan dan sayuran serta makanan lainnya.
Hari-hari sekitar Idul Adha saat ini, tiba-tiba saya teringat betapa meresapnya makna surah Al-Kautsar ketika selain dibaca juga dikaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari, misalnya dengan betapa banyak nikmat yang Allah SWT berikan lewat makanan yang kita konsumsi setiap hari.
Kebiasaan membaca ayat: "Sungguh Kami telah memberikan kepadamu Nikmat yang banyak" sambil mencuci dan memegang rupa-rupa jenis makanan membuat saya sadar betapa beragam nikmat Allah itu telah membuat saya dan teman semanusia saya bisa hidup dan melanjutkan kehidupan.
Lanjutan ayat yang berbunyi "Maka dirikanlah sholat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah," menjadi begitu alamiah. Terasa betul "malu" dan "tak tahu dirinya" saya sebagai manusia setelah mendapat begitu banyak nikmat lalu tidak sholat dan tidak siap berkurban sebagai wujud rasa patuh dan syukur saya karena telah diberikan begitu banyak nikmat oleh Allah, Yang Maha Pencipta.
Bacaan dan ikrar: "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam" terasa menjadi semakin mengena di hati karena meyakini bahwa semua kebutuhan dan keperluan saya yang rupa-rupa jenisnya diberikan oleh-Nya.
Sesungguhnya, dorongan untuk berkurban bisa menjadi bermakna luas. Tidaklah hanya menunggu waktu Idul Adha, dan bukan juga hanya dalam bentuk penyembelihan hewan kurban. Tapi setiap tarikan nafas kita, setiap detik-detik dalam hidup kita harusnya ikhlas untuk kita kurbankan semata untuk-Nya. Bahkan semua milik kita (yang hakekatnya adalah pinjaman dari-Nya) harus ikhlas kita berikan dengan keikhlasan yang semoga mendekati kualitas ikhlas Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS serta Bunda Siti Hajar yang ikhlas melepas dan mengorbankan yang paling dicintai sebagai wujud kepatuhan menjalankan perintah-Nya.
Ada hal penting lainnya yang sudah lama menjadi perhatian saya. Yaitu, bagaimana agar seluruh rakyat Indonesia bahkan seluruh manusia di bumi bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka (terutama kebutuhan makanan). Dengan demikian semua bisa menikmati ciptaan Allah berupa makanan yang rupa-rupa bentuk, warna dan rasanya dan dengannya bisa beryukur dengan cara tekun menyembah dan ikhlas berkurban di jalan-Nya.
Sesungguhnya segenap harta, jiwa dan apapun yang kita "miliki" harus siap kita kurbankan. Caranya, senantiasa berupaya tulus ikhlas memberikan yang terbaik untuk Allah, melalui tangan-tangan makhluk yang dicintainya (mereka yang miskin dan terpinggirkan) selain berupa hewan sembelihan juga berupa pemberian pikiran, waktu, tenaga, sarana dan dana yang kita miliki untuk mencari berperan dalam mensejahterakan mereka.
Semoga momentum Hari Raya Idul Adha tahun ini membuat kita semakin syukur nikmat, tekun sholat dan ikhlas berkurban. Dan semoga orang-orang yang membenci kita (karena iri, dengki atau belum paham pada apa yang kita lakukan) akan terputus. Dan semoga kita akan dipertemukan dan diperjalankan dan dipersatukan dengan orang-orang yang menyayangi, mencintai kita semata karena dan untuk Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Selamat Hari Raya Idul Kurban. Semoga kita semua rakyat Indonesia diberkahi-Nya. Amiin.
Salam Nusantara Jaya 2045.
www.marwahdaud.com & marwahdi@yahoo.com
Sumber Foto: Harun Yahya Internasional 2004. info@harunyahya.com Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini.
Entah mengapa sejak kecil saya sangat mudah tergetar, dan bisa larut begitu lama ketika mengamati satu-persatu nikmat yang diberikan Allah kepada kita melalui makanan yang kita makan setiap hari. Misalnya, saya pandangi telur itik lalu kemudian untuk waktu yang lama takjub membayangkan kehebatan Allah, Penciptanya, betapa sempurna proses terjadinya telur di perut induknya, proses keluarnya, kemudian kagum pada bentuknya, kulit keras dan kulit arinya, putih dan kuningnya. Begitu sempurna!!! Belum lagi nikmat dari rasanya ketika digoreng jadi telur dadar atau telur mata sapi; ketika direbus atau sesudah diasinkan; atau dijadikan bahan untuk membuat rupa-rupa kue. Betapa nikmatnya!!! Alhamdulillah.
Lebih takjub lagi saya ketika membayangkan telur itik yang isinya berwarna putih dan kuning, setelah dierami bisa menjadi anak itik yang begitu sempurna: ada mata, paruh, kaki, tulang, kulit, daging, bulu, pencernaan. Subhanallah. Proses perenungan tersebut sangat intensif karena di usia SD saya memelihara itik yang telurnya bisa saya ambil dan olah semau saya. Dari merenungkan proses penciptaan itik inilah kemudian disusul dengan kekaguman pada buah-buahan dan sayuran serta makanan lainnya.
Hari-hari sekitar Idul Adha saat ini, tiba-tiba saya teringat betapa meresapnya makna surah Al-Kautsar ketika selain dibaca juga dikaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari, misalnya dengan betapa banyak nikmat yang Allah SWT berikan lewat makanan yang kita konsumsi setiap hari.Kebiasaan membaca ayat: "Sungguh Kami telah memberikan kepadamu Nikmat yang banyak" sambil mencuci dan memegang rupa-rupa jenis makanan membuat saya sadar betapa beragam nikmat Allah itu telah membuat saya dan teman semanusia saya bisa hidup dan melanjutkan kehidupan.
Lanjutan ayat yang berbunyi "Maka dirikanlah sholat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah," menjadi begitu alamiah. Terasa betul "malu" dan "tak tahu dirinya" saya sebagai manusia setelah mendapat begitu banyak nikmat lalu tidak sholat dan tidak siap berkurban sebagai wujud rasa patuh dan syukur saya karena telah diberikan begitu banyak nikmat oleh Allah, Yang Maha Pencipta.
Bacaan dan ikrar: "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam" terasa menjadi semakin mengena di hati karena meyakini bahwa semua kebutuhan dan keperluan saya yang rupa-rupa jenisnya diberikan oleh-Nya.
Sesungguhnya, dorongan untuk berkurban bisa menjadi bermakna luas. Tidaklah hanya menunggu waktu Idul Adha, dan bukan juga hanya dalam bentuk penyembelihan hewan kurban. Tapi setiap tarikan nafas kita, setiap detik-detik dalam hidup kita harusnya ikhlas untuk kita kurbankan semata untuk-Nya. Bahkan semua milik kita (yang hakekatnya adalah pinjaman dari-Nya) harus ikhlas kita berikan dengan keikhlasan yang semoga mendekati kualitas ikhlas Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS serta Bunda Siti Hajar yang ikhlas melepas dan mengorbankan yang paling dicintai sebagai wujud kepatuhan menjalankan perintah-Nya.
Ada hal penting lainnya yang sudah lama menjadi perhatian saya. Yaitu, bagaimana agar seluruh rakyat Indonesia bahkan seluruh manusia di bumi bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka (terutama kebutuhan makanan). Dengan demikian semua bisa menikmati ciptaan Allah berupa makanan yang rupa-rupa bentuk, warna dan rasanya dan dengannya bisa beryukur dengan cara tekun menyembah dan ikhlas berkurban di jalan-Nya.
Sesungguhnya segenap harta, jiwa dan apapun yang kita "miliki" harus siap kita kurbankan. Caranya, senantiasa berupaya tulus ikhlas memberikan yang terbaik untuk Allah, melalui tangan-tangan makhluk yang dicintainya (mereka yang miskin dan terpinggirkan) selain berupa hewan sembelihan juga berupa pemberian pikiran, waktu, tenaga, sarana dan dana yang kita miliki untuk mencari berperan dalam mensejahterakan mereka.
Semoga momentum Hari Raya Idul Adha tahun ini membuat kita semakin syukur nikmat, tekun sholat dan ikhlas berkurban. Dan semoga orang-orang yang membenci kita (karena iri, dengki atau belum paham pada apa yang kita lakukan) akan terputus. Dan semoga kita akan dipertemukan dan diperjalankan dan dipersatukan dengan orang-orang yang menyayangi, mencintai kita semata karena dan untuk Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Selamat Hari Raya Idul Kurban. Semoga kita semua rakyat Indonesia diberkahi-Nya. Amiin.
Salam Nusantara Jaya 2045.
www.marwahdaud.com & marwahdi@yahoo.com
Sumber Foto: Harun Yahya Internasional 2004. info@harunyahya.com Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar