Tutur kata dan bahasanya sangat lembut dan santun tapi isi pesannya sangat keras, mendasar, bahkan bisa dikatakan radikal. Itulah Bapak A. Riawan Amin, Direktur Bank Muamalat Indonesia.
Di berbagai buku yang ditulis, wawancara yang disampaikan, kita dapat melihat betapa tajam argumentasi dan betapa jauh visi beliau yang intinya adalah: sudah saatnya dunia mengubah tatanan sistem ekonomi yang membuat kaya segelintir orang, menjadi sistem yang membuka peluang sejahtera bagi seluruh anggota masyarakat sesuai dengan tuntunan Allah yang Maha Pencipta dan Maha Adil.
Sepuluh tahun terakhir beliau membawa perubahan yang sangat mengagumkan di Bank Muamalat, Bank Syariah pertama Indonesia yang digagas awal MUI dan ICMI. Bayangkan di saat dunia dan Indonesia dilanda krisis, di bawah kepemimpinan Bapak A. Riawan Amin, Bank Muamalat mencatat pertumbuhan 400 persen dibanding tahun 1998. Dari semula beraset Rp 500 milyar menjadi Rp 12 trilyun dengan jumlah nasabah melonjak menjadi 2,5 juta sehingga mendapatkan rekor Muri.
Suksesnya menangani BMI membuat A. Riawan Amin, tokoh kelahiran Tanjung Pinang, 27 April 1958, dan Alumni Teknik Arsitektur New York Insitute of Technology, USA kemudian berturut-turut dipercaya menjadi Director International Islamic Financial Market (IIFM) di Bahrain (2004); Director General Council for Islamic Banks and Financial Institutions (CIBFI) juga berpusat Bahrain dan Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) keduanya di tahun 2007.
Bapak A. Riawan Amin, salah seorang Dewan Pakar ICMI, memberikan pikiran dan prediksi menarik tentang rapuhnya system keuangan dunia saat ini bahkan sebelum krisis besar melanda Amerika. Ketepatan analisisnya membuat pikiran dan kiprahnya yang biasanya dapat kita ikuti di Republika, kini semakin banyak diulas di beragam media, salah satu yang komprehensif adalah pada tanggal 15 November 2008 berupa profil lengkap di Rakyat Merdeka.
Dari berbagai analisis, argumen dan usulan penting yang beliau kemukakan ada 5 hal yang menarik untuk kita cermati: Pertama, Ia meyakini bahwa sistem keuangan konvensional tidak bisa memberikan pemerataan kemakmuran. Tugas pemerintah adalah memastikan tidak ada orang yang terlalu susah. Tapi akan banyak orang akan terlalu susah kalau ada segelintir orang dibiarkan terlalu kaya seperti yang terjadi saat ini. Ia mencontohkan Amerika serikat yang satu persen warganya mengontrol 40 persen aset warga Amerika Serikat, negara yang dijuluki the father of Capitalism.
Kedua, ia menilai bahwa krisis moneter yang terjadi saat ini disebabkan oleh transaksi valuta asing (valas) dunia yang mencapai 1,5 trilyun dolar AS per hari, padahal hanya 2 persen dari total transakasi yang masuk pasar barang produksi/jasa serta aktivitas impor-ekspor; sedangkan 98 persen sisanya adalah murni spekulasi, judi yang tak ada hubungannya dengan produksi, ekspor, membeli dan berdagang. Inflasi terjadi karena terlalu banyak supply uang dibanding hasil produksi. Inilah yang dikenal dengan money bubbling machine. Lebih parah lagi, di Indonesia valas itu bukan hanya big casino tapi the biggest casino, dan yang memakai pasar modal untuk menggelembungkan uang dan 70% adalah pihak asing yang kita sambut karena dikira memasukkan uang melalui pasar modal, memperbaiki cadangan devisa, memperkuat rupiah padahal kini terbukti menyeret kita ke dalam krisis ekonomi dunia.
Ketiga, Bapak A. Riawan Amin melihat bahwa nilai uang yang berbasis kertas merupakan kelemahan. Padahal sejak 3.000 tahun lalu sampai 35 tahun lalu cadangan devisa yang digunakan masih berupa emas dan perak. Masyarakat Ekonomi Eropa juga mengusulkan kembali ke mata uang berdasarkan komoditas. Mata uang kertas mirip dengan permainan monopoli. Kertas dipotong kecil, dicetak lalu diberi gambar dan angka (kertasnya bernilai sama tapi ia tiba-tiba memiliki nilai yang berbeda satu atau lima atau lima puluh atau seratus dollar). Bandingkan dengan memakai uang atau alat tukar berbasis emas atau perak. Harga kambing 1.400 tahun yang lalu di zaman Rasulullah sama dengan saat ini 4,25 gram emas 22 karat. Dengan uang kertas, antara harga tahun lalu dan saat ini saja sudah sangat berbeda.
Keempat, ia melihat bank syariah bukan alternatif, tapi stabilisator atau bahkan penjaga kepentingan nasional. Sistemnya lebih baik. Antara lain karena feature perbankan syariah mendorong sektor riil. Bank Syariah mengumpulkan dana masyarakat untuk menghidupi sektor riil. Sistem konvensional, hanya ambil dana masyarakat lalu masukkan ke SBI. Bank Syariah dengan sistem imbal hasil (bagi hasil), Financing to Deposit Ratio (DF) selalu penuh, Jika bank lain 70%, bank syariah mencapai 100-120%.
Kelima, A. Riawan Amin mengusulkan agar dilakukan langkah koersif (pemaksaan), untuk konversi dari sistem konvensional ke sistem syariah.
Dengan demikian jika saat ini share seluruh bani syariah di Indonesia baru 2 persen, maka diharapkan bisa mencapai 20 sampai 50 persen.
Ia berobsesi membubarkan Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) dengan cara menjadikan arus utama Bank Indonesia menjadi Sistem Syariah sehingga yang akan ada adalah Direktorat Perbankan Konvensional. "Tidak berarti Bank Mandiri, BNI, BCA, BRI, Bank pembangunan daerah tidak boleh tumbuh, silahkan tumbuh semua, tapi ayo dong portfolionya konversi ke sistem syariah, karena itu tadi, banyak feature perbankan syariah mendorong sektor riil."
Saya teringat ketika tahun 2007 lalu mendapat undangan ke Inggeris --sebagai anggota Islamic Advisory Commitee Indonesia-UK (komite dibentuk atas inisiatif Presiden SBY dan Perdana menteri Tony Blair)-- saya melihat iklan besar-besaran HSBC Amanah (sistem Syariah HSBC) di jantung kota London.
Saya berharap tutur kata yang lembut dan santun Bapak A. Riawan Amin membuat orang cepat simpati dan tak curiga tentang potensi terbaik dibalik sistem perbankan Syariah. Kan lucu jika Inggeris dan kini Singapura lebih cepat mengkonversi sistem perbankan mereka ke sistem Syariah dibanding kita di Indonesia yang punya banyak ahli perbankan Syariah. Dan lebih penting lagi masyarakat kini sudah sangat memerlukan liquiditas perbankan untuk membuka kesempatan kerja bagi jutaan sumber daya manusia (SDM) terdidik dan puluhan juta yang tak terdidik yang kini belum bekerja, serta untuk mengolah sumber daya alam (SDA) kita yang masyaAllah tersebar di seluruh pelosok negeri dan jadi incaran masyarakat dunia.
Yang diperlukan adalah KEBERANIAN PEMIMPIN dan dukungan bersama kita sebagai bangsa. Mari kita meyakini bahwa, keputusan yang tepat dalam kebijakan keuangan insyaAllah akan membawa bangsa Indonesia Berjaya, Memimpin Peradaban, bukan hanya di Asia tapi di dunia.
Terima kasih Pak A. Riawan Amin. Mari berjuang bersama dalam barisan yang teratur rapi. Kami bersama Bapak dan tim Bapak. Semoga Allah meridhoi. Amien. Salam Nusantara Jaya 2045.
(marwahdi@yahoo.com dan www.marwahdaud.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar