Dalam kesempatan mengikuti dialog Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie di Universitas Paramadina saya mendapatkan banyak kesan menarik tentang universitas yang ternyata tahun kelahirannya sama dengan tahun awal reformasi; yaitu pada tahun 1998 atau saat B.J. Habibie menjadi wakil presiden dan kemudian menjadi presiden Republik Indonesia.
Yang paling menarik tentu saja adalah idealisme dan misi Universitas Paramadina. Dalam profil universitas, Anis Baswedan, Ph.D. menyatakan: "Universitas Paramadina lahir atas landasan idealisme, bukan merespon peluang bisnis pendidikan. Ia lahir berlandaskan kepedulian atas kondisi masa kini dan masa depan bangsa, membangun masyarakat madani yang terdidik dan beretika."
Bima Arya Sugiarto, Ph.D., Dosen Hubungan Internasional alumni Australian National University menambahkan: "Pendidikan adalah proses pemerdekaan pondasi kultural yang kokoh pada institusi pendidikan yang sangat penting. Paramadina dibangun di atas pondasi kultural yang tegas dan kokoh, yaitu tradisi inklusivitas, pluralitas dan demokrasi. Pesona tradisi inilah yang membuat saya bangga menjadi bagian dari Paramadina."
Simak pula apa yang pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid, pendiri dan rektor pertamanya: "Universitas Paramadina mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia, melalui penciptaan lingkungan kampus sebagai pusat ilmu dan budaya, yang memiliki tradisi masyarakat ilmiah yang kreatif dan civitas akademika yang berkepribadian teguh dan sikap yang menjunjung tinggi kebebasan mimbar akademik."
Daya tarik lain kampus ini adalah suasana akrab dan egaliter. Di dalam kampus yang ditata apik dan asri ini kita melihat mahasiwa sibuk membaca atau berdiskusi ringan dengan teman mahasiswa, atau membuka laptop di koridor, tak lupa memberikan sapaan akrab kepada para tamu. Di ruang pertemuan dengan dinding yang dihiasi histogram perkembangan matematika, para tamu yang hadir antara lain, Ibu Pia Alisyahbana, Bapak Ishadi, Bang Akbar Tandjung, Pak Habibie dan Ibu Ainun yang berbaur akrab bersama tokoh inti Universitas Paramadina seperti Mas Utomo Danandjaya, rektor dan para pembantu rektor. Setelah acara seminar dan sholat Jum'at, kami sempat diajak melihat ruang Cak Nur (yang kini dipakai oleh rektor, yang interiornya tidak diubah).
Hal lain yang menarik adalah universitas belia ini dipimpin oleh tokoh muda tamatan berbagai universitas dalam dan luar negeri: Anies R. Baswedan, Ph.D., Rektor, doktor dari Northern Illinois University, USA serta MA dari University of Maryland, College Park, USA, dan sarjana ekonomi dari UGM. Totok A. Soefijanto Ed.D., Deputi Rektor Bidang Akademik, Doktor Boston University, Master dari Emerson College, Massachusetts, USA, dan alumni IPB. Wijayanto, MPP, Deputi Rektor Bidang Kerjasama, Pengembangan Bisnis dan Kemahasiswaan, Master dari Georgetown University, Washington, D.C., USA, alumni UGM; dan Bima P. Santosa, Ak. MFM., Deputi Bidang Keuangan dan Operasional, Master dari Melbourne University, Australia, dan Sarjana STAN. Sang Rektor bahkan menyampaikan bahwa, ketika pertama kali bertemu Pak Habibie, ia masih siswa SMA.
Saya menyaksikan impian tentang Universitas Paramadina mulai mewujud, impian yang sering disampaikan oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid dkk. pendiri dan juga saya ikuti melalui tulisan atau pernyataan oleh Dr. Yudi Latief --yang turut berperan merumuskan konsep dasar di awal pendiriannya, yaitu menyiapkan kader masa depan bangsa yang memiliki karakter dan nilai-nilai ke-Islaman, Ke-Modernan dan Ke-Indonesiaan dengan kompetensi leadership, entrepreneurship dan ethic yang kuat. Salah satu terobosan penting di universitas ini adalah seluruh mahasiwa harus mengambil kuliah tentang pencegahan korupsi.
Pertanyaan-pertanyaan yang cerdas dan berani yang disampaikan dengan santun oleh para mahasiwa Paramadina kepada Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie dalam dialog hari itu memperlihatkan bahwa Paramadina menjalankan visi dan misi sesuai impian dan harapan pendirinya. Cak Nur telah meninggalkan sebuah legacy, warisan, yang manfaatnya lebih panjang dari usia beliau.
Kepada seluruh civitas akademika Universitas Paramadina kami ucapkan: Selamat menyiapkan kader masa depan bangsa, yang seperti diperlihatkan Bapak Habibie, penuh dengan tantangan sekaligus peluang.
Selamat menyongsong Nusantara Jaya 2045.
(www.marwahdaud.com & marwahdi@yahoo.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar