09 November 2008

Forum Silaturahmi Kesultanan Se-Nusantara Festival Keraton Nusantara IV

Minggu-minggu ini kita dikagetkan oleh pemberitaan yang terkait dengan Kesultanan dan Keraton se-Nusantara. Kejadian Pertama adalah ketika lebih 47 raja dan sultan perwakilan dari 118 kerajaan se-Nusantara mengurungkan niat untuk menghadiri acara Pisowan Agung 28 Oktober lalu di Yogyakarta. Alasannya antara lain terkait dengan pernyataan Sultan Hamengkubuono X di media dan karena beliau tampil tidak memakai pakaian adat kebesarannya (lihat wawancara KPH. Gunarso G.Kusumodiningrat Sekjen Forum Silaturrahmi Kesultanan se-Nusantara di Harian Rakyat Merdeka 8 Nov 08, hal. 3).

Kejadian kedua sangat mengenaskan, ketika Pemerintah Kabupaten Gowa mengosongkan Istana Balla Lompoa di Sunggguminasa dari anak dan keturununan Raja Gowa ke-36 Andi Ijo Karaeng Lalolang. Tragisnya pengosongan paksa melibatkan satuan polisi pamong praja (satpol PP) dilakukan -- sungguh pun diprotes oleh keturunan Sultan Hasanuddin dan mahasiswa setempat. --justru karena akan dilaksanakannya Festival Keraton Nusantara IV tanggal 14 November di Gowa (lihat Fajar Online 8 Novembe dan berita Kompas, 9 Nov 08, hal.2).

Beberapa tahun terakhir ini saya ditakdirkan dan diperjalankan di berbagai pertemuan yang terkait dengan keluarga Kerajaan dan Kesultanan Indonesia. Pertama tahun 2002 saya diajak berkunjung Situs Kerajaan Kalingga dirangkaikan dengan kunjungan ke makam Karaeng Galesong. Lalu Parade Nusantara yang diketuai oleh Sudir Santoso dan Sekjen Suryokoco mengundang saya bersama Bapak Ryamizard Ryacudu, Sinuwun Tejowulan, I Gde Putu Ary Suta, Aa Gatot, ke Trowulan, Mojekerto, situs kerajaan Majapahit. Kunjugan lain yang pernah saya lakukan adalah ke Kesultanan Kutai Kartanegara, Buton, Ternate, Siak, Tallo, Soppeng, Luwu. Dan saya pun dekat dengan keturunan Raja Soppeng dan Soppeng Riaja Andi Kaswadi Razak dan Zainuddin Siddiq, yang tahun lalu meresmikan Rumah adat Kerajaan di Ralla, Kab.Barru.

Bagaimana seharusnya kita memposisikan Kerajaan dan Kesultanan di Indonesia?
Sepertinya di era otonomi dan alam demokrasi sekarang ini ternyata semakin kita sadari bahwa mereka tidak hanya meninggalkan keraton dan berbagai warisan berupa benda berharga tapi terutama warisan hidup berupa tradisi, adat istiadat, tatakrama melalui turunan mereka.

Saya teringat pertanyaan wartawan tanggal 14 Maret 1007 seusai menerima anugerah dan piagam bertuliskan Marwah Daud, Datin Sri Petinggi Istana dari Penembahan XIII Istana Amantubillah, di Mempawah, Pontianak Kalbar. oleh Dr. Ir. Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kusuma Ibrahim, M.Sc.dari Kerajaan Amantubillah. Pertanyaannya kurang lebih sbb: "Ibu Marwah sudah S-3 di Amerika, harusnya berfikiran maju dan modern, kok mau ngurusin keraton, kerajaan dan kesultanan, tidakkah ini melangkah mundur, kuno dan perlambang feodalisme?"

Ketika itu saya dapatkan ilham dan saya jawab bahwa "Nusantara ini akan berjaya jika menghormati kerajaan dan kesultanan se Nusantara. Dan ini sama sekali tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan prinsip negara modern atau negara maju."

"Kurang apa majunya Jepang mereka punya dan menghormati kaisarnya; kurang apa majunya Inggeris dan Belanda mereka punya ratu dan raja; atau lihat tetangga sebelah kita Malaysia dan Thailand punya perdana menteri tapi juga tetap punya raja yang dihormati."

Sudah lama saya berpikir bahwa harusnya di upacara kenegaraan, seperti pelantikan presiden, upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus, pada Rapat Paripurna DPR-RI yang dihadiri para teladan, duta besar dan para veteran, adalah sesuatu yang pantas jika perwakilan para raja sultan dan ratu se-Nusantara yang diundang dengan pakaian adat kebesaran masing-masing. Demikian pula di setiap upacara provinsi dan kabupaten perwakilan kerajaan dan kesultanan setempat diajak hadir dengan pakaian adat kebesarannya. Leluhur mereka telah memberikan goresan dan jejak penting dalam kebudayaan dan pengembangan agama dan peradaban Nusantara.

Sudah waktunya tokoh yang memiliki pengaruh riil di masyarakat diposisikan di tempat yang tepat dan diajak memberikan kontribusi terbaiknya sebagai modal sosial dan budaya bagi bangsa. Semoga kejadian di Yogyakarta dan di Gowa menjadi titik awal untuk kita sebagai bangsa bisa mengambil sikap bijak terhadap keberadaaan Kesultanan dan Kerajaan di Nusantara. Kita perlu melakukan pembicaraan secara baik-baik dengan Raja dan Sultan Nusantara. Dan yang pasti kita harus membangun pola relasi yang menjadikan mereka subyek terhormat, seperti Festival Keraton Nusantara IV, dan bukannya sebagai obyek penderita yang bahkan tega kita permalukan.
Salam Nusantara Jaya 2045.

(marwahdi@yahoo.com dan www.marwahdaud.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar